dental
ilustrasi

koran-sindo.com, YOGYAKARTA–Lima mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) menciptakan alat peraga edukasi bernama tootells atau gigi bicara. Alat ini diciptakan khusus untuk tuna netra dalam menghadapi persoalan kesadaran menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Kelima mahasiswa UGM ini yakni Apriliani Astuti, Navilatul Ula, Isti Noor Masita dari Kedokteran Gigi, Hamzah Assaduddin dari Teknik Mesin dan Brisma Meihar Arsandi dari Elektronika dan Instrumentasi. Alat peraga gigi ini tidak biasa. Selain bisa berbicara menyapaikan informasi seputar kesehatan gigi, alat ini juga hanya terbuat dari bahan limbah serbuk kayu. “Alat berupa gigi tiruan ini sudah kami dilengkapi sistem elektronis berbasis mikrokontroler. Setiap bagian gigi yang disentuh mampu menghasilkan suara secara otomatis.
Tinggal menunggu kurang lebih selama satu menit, kita akan mendengarkan penjelasan mengenai bagian-bagian yang ada gigi atau penyakit pada gigi seperti email, dentin, pulpa dan gigi berongga,” jelas Apriliani Astuti. Menurut April, tujuan suara tersebut adalah untuk memudahkan penjelaskan kepada tunanetra yang memanfaatkan alat peraga tersebut. Selama ini, alat media pembelajaran gigi yang ada masih terbatas kemampuannya dan pasti terkendala upaya menjelaskan lebih detail tentang anatomi gigi kepada para siswa tuna netra.
Selain itu, ukuran alat peraga gigi selama ini dibuat terlalu kecil. “Pembuatan gigi berbicara ini sasaran awalnya dikhususkan untuk kalangan tuna netra. Tapi juga tidak menutup kemungkinan sebagai media pembelajaran bagi anak-anak dan orang dewasa untuk lebih tahu banyak kesehatan gigi dan mulut. Alat peraga ini bisa jadi altenatif media pembelajaran untuk mempelajari anatomi gigi. Dan kami berani mengklaim alat seperti ini baru ada pertama kali ada di Indonesia,” paparnya.
Sementara itu, Isti menambahkan, pemilihan serbuk kayu sebagai bahan baku pembuatan alat peraga tersebut dimaksudkan untuk mempermudah tunanetra dalam mengenali setiap bagian dari susunan gigi. Tak mampu melihat, membuat para tunanetra sangat tajam pada indera pendengaran dan peraba. “Alat ini mulai kami kembangkan sejak Februari 2014 lalu. Selama pengembangannya, kami mengalami eksperimen sampai tiga kali.
Tapi kami juga sudah mengujicobakan alat ini di MTs Yaketunis. Total biaya yang kami dihabiskan untuk pembuatan alat peraga ini kurang lebih Rp3juta,” ujarnya. Hamzah menambahkan, pemilihan bahan serbuk kayu sebagai bahan utama pembuatan tootellsjuga dikarenakan sebagai upaya mereka memanfaatkan bahan yang sudah tidak terpakai. Selain murah dan mudah didapat, bahan tersebut cocok untuk membuat bentuk gigi tiruan. (sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here