Dalam bidang kesehatan, Indonesia dan United Arab Emirates (UEA) memiliki MoU Kerjasama Bidang Kesehatan yang ditandatangani pada 12 Januari 2020 dan berlaku selama 3 tahun. Salah satu area kerjasama yang disepakati adalah mendorong portofolio investasi sektor kesehatan.

Sejalan dengan MoU Kerjasama Bidang Kesehatan yang telah ditandatangani, Assistant Undersecretary of Public Health Policy & Licensing Ministry of Health and Prevention (MoHAP) United Arab Emirates (UEA), Amin Hussain Al-Ameeri melakukan kunjungan kerja ke Indonesia pada tanggal 18 – 21 Juli 2022.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin didampingi oleh Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alkes Lucia Rizka Andalucia, menyambut baik kunjungan kerja yang bertujuan untuk mengidentifikasi peluang joint ventures antara Indonesia dengan UEA yang berfokus pada produksi obat, vaksin dan alat kesehatan tersebut pada pertemuan Business Forum.

Pertemuan Bussiness Forum on the visit of MoHAP United Arab Emirates (UEA) diselenggarakan guna membahas kerja sama bilateral antar kedua negara terkait industri farmasi dan alat kesehatan. “Hari ini, kami akan memulai kolaborasi industri farmasi dan alat kesehatan dengan UEA,” kata Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin.

Baca juga:
Tingkatkan Pembangunan Kesehatan Nasional, Kementerian Kesehatan Gelar Health Business Gathering

Menkes menyebutkan bahwa salah satu fokus utama dari kerjasama antara kedua negara adalah membangun lebih banyak penelitian dan kapasitas produksi yang terdistribusi pada vaksin, terapi, dan diagnostik (VTD), yang akan memberikan pemerataan dan akses yang lebih baik untuk setiap negara ketika pandemi berikutnya melanda.

Hal ini mengingat memasuki tahun ketiga pandemi, dunia masih menghadapi COVID-19 serta ancaman dari varian barunya. Untuk itu, akses terhadap VTD serta perbaikan sistem pelayanan kesehatan, menjadi komponen vital sehingga perlu diperkuat untuk mengantisipasi lonjakan kasus COVID-19 dan mengakhiri fase akut pandemi.

Dengan posisi Indonesia sebagai rumah bagi lebih dari 5 produsen vaksin, 220 produsen farmasi, serta lebih dari 650 produsen alat kesehatan yang sebagian besar telah diakui dalam standar global, serta pengalaman mengekspor produk ke seluruh dunia, Menkes optimis Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk membantu memenuhi supply farmasi dan alat kesehatan global.

Baca juga:
Transformasi Sistem Ketahanan di Bidang Kesehatan dengan Mendorong Produksi Alat Kesehatan yang Menggunakan Bahan Baku Dalam Negeri

Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi jalan bagi penguatan arsitektur kesehatan global yang tangguh terhadap ancaman bencana kesehatan di masa yang akan datang. “Kami percaya kemitraan bilateral adalah salah satu jalan untuk mencapai perawatan kesehatan yang lebih baik, sistem kesehatan yang lebih tangguh, dan berkontribusi pada upaya global dalam menangani pandemi di masa depan,” tutur Menkes.

Menkes berharap adanya kolaborasi ini menjadi peluang besar serta menjadi awal yang baik dalam kerangka penguatan arsitektur kesehatan global yang sempat tertekan akibat pandemi COVID-19. Pihaknya berharap kerja sama sektor kesehatan antarkedua negara bisa terus ditingkatkan. “Saya percaya dan berharap melalui kolaborasi ini, dapat membuka peluang yang sangat besar untuk penguatan sistem kesehatan dua negara,” harap Menkes.

Baca juga:
Pemerintah Tingkatkan Penggunaan Bahan Baku Obat Produksi Dalam Negeri

Melalui kunjungan kerja ini, delegasi dari UEA yang terdiri dari MoHAP dan Chief Executive Officer (CEO) industri farmasi dan alat kesehatan UEA melakukan factory visit ke 8 industri farmasi, bahan baku dan alat kesehatan yang terdiri dari PT. Kalbe-Dankos Farma, PT. Etana Biopharmaceutical, PT. Karya Daya, PT. Kalbio Global Medika, PT. Oneject Indonesia, PT. Ferron Par Pharmaceuticals, PT. Kimia Farma Sungwun P., PT. Bio Farma.

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►