Alat kesehatan merupakan salah satu kebutuhan penting yang harus dipenuhi agar dapat meningkatkan penyediaan pelayanan kesehatan. Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan berupaya untuk meningkatkan pertumbuhan jumlah industri maupun jenis alat kesehatan yang diproduksi sehingga mencapai produk dalam negeri yang bermutu, memiliki daya saing dan terjangkau oleh masyarakat. Namun, tidak sedikit alat kesehatan yang beredar merupakan produk impor. Berdasarkan data e-Katalog LKPP tahun 2019-2020, transaksi alat kesehatan masih didominasi produk impor, yakni mencapai 88% dari total nilai transaksi alat kesehatan. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengambil kebijakan untuk mengatur belanja alat kesehatan bagi unit pelayanan kesehatan pemerintah dan mendorong pemanfaatan sumber daya dalam negeri.

Baca juga:
Ditjen Farmalkes Laksanakan Edukasi Penggunaan dan Pembuatan Jamu serta Gema Cermat pada Acara Giat Sanggar Saka Bakti Husada Seri IV

Seiring dengan bertambahnya kebutuhan akan alat kesehatan, Kementerian Kesehatan mengambil langkah strategis dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 17 Tahun 2017 tentang Rencana Aksi Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan untuk mendukung program peningkatan pemanfaatan sumber daya dalam negeri sebagai bahan baku untuk memproduksi alat kesehatan. Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan melalui Direktorat Ketahanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan selaku pelaksana program merencanakan sebuah solusi kreatif untuk mendukung tercapainya program tersebut dengan mengadakan pertemuan “Focus Group Discussion antara Produsen Bahan Baku/komponen semi-finished products Alat Kesehatan dan Industri Alat Kesehatan Indonesia”.

Pertemuan yang dilaksanakan di Jakarta pada 3 Agustus 2022 ini dihadiri oleh industri bahan baku/komponen semi finished products, industri alat kesehatan dalam negeri, asosiasi industri alat kesehatan, serta internal Kementerian Kesehatan. Pelaksanaan kegiatan ini merupakan salah satu tahapan untuk melakukan pemetaan bahan baku alat kesehatan dalam negeri, khususnya logam stainless steel, plastik, dan karet/latex. Peserta lintas sektor dan asosiasi menyampaikan beberapa komponen yang harus dipenuhi dan masukan-masukan yang perlu menjadi pertimbangan dalam kerja sama produksi alat kesehatan. Dari diskusi tersebut diperoleh output berupa rekomendasi yang menjadi perhatian bersama untuk menciptakan alat kesehatan yang bermutu dan memiliki daya saing baik dari segi kualitas maupun harga, sehingga diharapkan ke depannya Indonesia memiliki ketahanan di bidang kesehatan yang mampu memenuhi kebutuhan alat kesehatan dengan produk-produk buatan negeri sendiri.

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►