Di era precision medicine, genomika memiliki peran penting dalam pengembangan sistem pelayanan kesehatan terutama digunakan dalam deteksi dini, diagnosis dan penanganan pengobatan pasien. Pendekatan genomika digunakan untuk memahami lebih dalam mengenai hal-hal yang mempengaruhi kesehatan pada setiap individu, seperti screening biomarker penyakit, diagnosis, pemilihan pengobatan yang tepat untuk individu dan identifikasi patogen.

Di masa pandemi COVID-19, genomika menunjukkan perannya dalam memahami evolusi dan sirkulasi patogen. Selain itu, data genomika juga digunakan dalam pengembangan alat diagnostik, pengobatan dan juga pengembangan vaksin. Negara-negara ASEAN telah mengaplikasikan pendekatan genomik pada pelayanan kesehatan, salah satunya berupa pengumpulan data genomik manusia (human genome) dan surveilans penyakit. Namun, dalam implementasi dan pengembangannya, negara-negara ASEAN masih banyak mengalami kendala. Pada 3 Desember 2022, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menggelar Southeast Asia Genomics Conference 2022 (SEAGC 2022) yang diselenggarakan secara daring dan luring. Tujuan konferensi ini adalah untuk membangun relasi dan mempromosikan kolaborasi di negara ASEAN, baik pemerintah, akademisi, klinisi maupun sector swasta dalam hal inovasi di bidang genomik untuk menghadapi pandemi dan emerging disease lainnya di masa depan. Konferensi ini dihadiri oleh perwakilan dari 6 negara ASEAN, startup berbasis genomik, industri, asosiasi genomik, perwakilan rumah sakit dan universitas. Pembicara yang hadir dalam konferensi ini adalah delegasi negara ASEAN (Kamboja, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Singapura, dan Thailand), representative ASEAN Secretariat, Broad Institute, Duke-NUS University Singapore, GISAID, NIAID NIH, FIND, BGSi, Precise, Genomic Thailand, Bio Farma, Gene Solution dan Kura-kura Bali.

Menteri Kesehatan RI Budi G. Sadikin dalam sambutannya menyampaikan bahwa Indonesia memiliki keistimewaan dengan memiliki keanekaragaman hayati dan genomik yang tinggi.  “Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya yang luas dan menguntungkan untuk mengembangkan dan memperluas inisiatif biogenomik. Teknologi genomik manusia dianggap penting dan memiliki manfaat potensi yang luas pada pelayanan kesehatan”, kata Menkes. Dari materi yang disampaikan terindentifkasi beberapa gap/tantangan dalam implementasi genomika di pelayanan kesehatan, antara lain akses reagen dan bahan habis pakai, sumber daya manusia terutama bioinformatika, pembiayaan yang berkelanjutan dan rencana aksi nasional.

Oleh karena itu disepakati pula pentingnya kolaborasi, berbagi pengetahuan, peningkatan kapasitas dan pemerataan akses antar negara anggota ASEAN. Kolaborasi menjadi kunci dalam peningkatan kapasitas genomika di Asia Tenggara. Dan kolaborasi tersebut tidak hanya diantara pemerintah negara ASEAN, tetapi juga melibatkan sektor swasta (industri dan startup) dan para peneliti di universitas maupun institusi penelitian.

Baca juga:
Ditjen Farmalkes Adakan Kegiatan Advokasi Sertifikasi Produksi Alat Kesehatan di Wilayah Provinsi Jawa Tengah

Dalam kegiatan ini, diselenggarakan juga pameran yang melibatkan peserta dari Biomedical and Genome Science Initiatives (BGSi), PT Bio Farma, Gene Solutions Viet Nam, GSI Lab, Illumina, MGI (BGI Group), PT Huawei Tech Investment, Prodia Clinical Laboratory, Nalagenetics, Oxford nanopore, PT Regene Artifisial Inteligen, PT Etana Biotechnologies Indonesia, Asosiasi Genomik Indonesia, dan PT Diagnos Laboratorium Utama TBk. Selain itu, dilaksanakan juga business matching antar stakeholder untuk menjalin kerjasama dan kolaborasi penelitian dan bisnis.

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►