Dalam mengimplementasikan Enam Pilar Transformasi Kesehatan terutama pilar ketiga yakni mendorong kemandirian farmasi dan alat kesehatan dan Instruksi Presiden No. 02 Tahun 2022 tentang Percepatan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri dan Produk Usaha Mikro, Usaha Kecil, dan Koperasi Dalam Rangka Menyukseskan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia pada Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Ditjen Kefarmasian dan alat kesehatan melalui Direktorat Ketahanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan menyelenggarakan Rapat Koordinasi Peningkatan Ketahanan dan Penggunaan Alat Kesehatan Dalam Negeri dengan tujuan untuk memetakan kebutuhan bahan baku alat kesehatan dalam negeri, khususnya logam stainless steel, plastik dan karet/latex.

Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 18 Juli 2022 di Hotel Mercure ini dilakukan secara daring dan luring dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, mengundang perwakilan Kementerian Perindustrian dan LKPP sebagai narasumber serta perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi sebagai penanggap.

Baca juga:
Indonesia-United Arab Emirates (UEA) Jalin Kerjasama Farmasi dan Alat Kesehatan

Acara dibuka dengan Laporan Kegiatan oleh Plt Direktur Ketahanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Ir. Sodikin Sadek kemudian penyampaian paparan Kebijakan Penggunaan Alat Kesehatan dalam Negeri oleh Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan.

Dalam laporannya, Plt Direktur Ketahanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan mengungkapkan bahwa dalam menciptakan terwujudnya ketahanan alat kesehatan di Indonesia diperlukan dukungan industri hulu untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku alat kesehatan, upaya pemenuhan bahan baku untuk produksi alat kesehatan dalam negeri ini merupakan hulu upaya peningkatan penggunaan produk alat kesehatan dalam negeri.

Dalam paparannya, Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan mengungkapkan bahwa tantangan penggunaan produk dalam negeri sektor alat kesehatan di Indonesia masih bergantung pada impor, dan teknologi riset di negara maju, juga perbandingan Alat Kesehatan yang tayang di E-Katalog hanya 20% produk yang telah bersertifikat TKDN.

Baca juga:
Perkuat Ketahanan Alat Kesehatan, Kemenkes dan Biofarma Luncurkan Biocolomelt-DX

Sesuai kebijakan preferensi alkes produksi dalam negeri, alat kesehatan dalam negeri menjadi prioritas utama dalam e-katalog dengan melakukan substitusi produk impor yang tayang di e-katalog diharapkan dapat meningkatkan penggunaan alat kesehatan dalam negeri.

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►