Dalam peringatan Hari Kesehatan Nasional, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) setiap tahunnya memberikan penghargaan kepada individu, lembaga dan pelaku industri yang berkontribusi nyata dalam pembangunan kesehatan nasional.
Tahun ini dalam peringatan HKN ke-61, beberapa penghargaan diserahkan melalui kegiatan Health Innovation Festival (HAI Fest) 2025 yang digelar di Kartika Expo, Balai Kartini Jakarta pada 7 s.d. 9 Desember 2025.
Melalui kegiatan ini Direktorat Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan (Ditjen Farmalkes) Kemenkes memberikan Penghargaan Karya Anak Bangsa Tahun 2025 yang diserahkan oleh Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono, didampingi Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Dr. L. Rizka Andalusia kepada pelaku inovasi di bidang kesehatan khususnya farmasi dan alat kesehatan.
Penghargaan ini diberikan kepada individu, lembaga dan perusahaan yang berhasil menunjukkan kontribusi nyata melalui inovasi dan karya yang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat Indonesia, terutama yang memiliki nilai ilmiah, teknologi, dan kebermanfaatan tinggi bagi sistem dan kemandirian kesehatan nasional.
Pada kategori Individu Berprestasi, penghargaan diberikan kepada Dr. dr. Tri Maharani, M.Si., Sp.EM sebagai pakar toksikologi ular berbisa dan penanganan kegawatdaruratan gigitan ular; Prof. Trio Adiono, S.T., M.T., Ph.D. sebagai inisiator riset dan perancang desain health microchip pertama di Indonesia; serta dr. Dicky Levenus Tahapary, Sp.PD-KEMD, Ph.D., FINASIM sebagai pionir peluncuran pemeriksaan genetik Maturity-Onset Diabetes of the Young (MODY) pertama di Indonesia.
Sedangkan pada kategori Institusi Berprestasi, penghargaan diberikan kepada industri farmasi dan alat kesehatan nasional yang telah berkontribusi dalam penguatan ketahanan kesehatan nasional, yaitu PT. Etana Biotechnologies Indonesia sebagai produsen vaksin mRNA dan PCV-13 dalam negeri pertama di Indonesia serta pengembang vaksin TB (uji klinik fase 1); PT. Global Onkolab Farma sebagai industri radiofarmaka yang mengembangkan produk radiofarmaka dan fasilitas terapi kanker; PT. Dexa Medica sebagai pelaksana uji klinik obat bahan alam terbanyak di Indonesia; PT. Oneject Indonesia sebagai pionir produk blood bag dalam negeri; PT. SK Plasma Core Indonesia sebagai pionir industri fraksionasi plasma di Indonesia; serta PT Crown Teknologi Indonesia sebagai produsen inovatif alat kesehatan diagnostik in vitro (DIV) dalam negeri.
Selain itu, Ditjen Farmalkes juga memberikan penghargaan kepada pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, dan pelaku industri farmasi yang berkontribusi dalam peningkatan layanan kesehatan dan pengelolaan logistik berbasis teknologi, khususnya melalui implementasi SATUSEHAT Logistik SMILE.

Penghargaan untuk Dinas Kesehatan Provinsi Terbaik dalam Pelaporan SATUSEHAT Pelayanan Kefarmasian dan Ketersediaan Obat untuk Penanganan Sembilan Penyakit Prioritas Tahun 2025, diberikan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Jambi sebagai juara pertama, disusul Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan sebagai juara kedua, dan Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai juara ketiga.
Penghargaan untuk Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan Implementasi SATUSEHAT Logistik SMILE untuk Program HIV/AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (ATM) Terbaik diraih oleh Dinas Kesehatan Kota Denpasar sebagai juara pertama, Dinas Kesehatan Kota Semarang sebagai juara kedua, dan Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru sebagai juara ketiga.
Penghargaan untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan Pengelolaan Vaksin Terbaik melalui SATUSEHAT Logistik SMILE Vaksin Tahun 2025, diberikan kepada Puskesmas Tambak Aji, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah untuk Regional Barat; Puskesmas Rapak Mahang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur untuk Regional Tengah; serta Puskesmas Malawi, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya untuk Regional Timur.
Penghargaan untuk Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan Pencatatan SATUSEHAT Logistik SMILE untuk BMHP PKG Terbaik Tahun 2025 diberikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur untuk Regional Barat; Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk Regional Tengah; serta Dinas Kesehatan Kota Tual, Provinsi Maluku untuk Regional Timur.
Penghargaan untuk Industri Farmasi dengan Produk Obat Terbanyak Tercantum pada Etalase/Koleksi Konsolidasi Obat Katalog Elektronik diraih oleh PT. Dexa Medica. Adapun kategori Industri Farmasi dengan Obat Terbanyak yang Menggunakan Bahan Baku Produksi Dalam Negeri diberikan kepada PT Kimia Farma Tbk.

Penghargaan atau apresiasi tidak hanya diberikan kepada individu ataupun perusahaan, Kemenkes juga memberikan apresiasi kepada Unit Utama dan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Kementerian Kesehatan RI.
Sejumlah penghargaan dan apresiasi berhasil diraih Ditjen Farmalkes. Diantaranya Penghargaan E-Monev Pelaksanaan Program dan Kegiatan di Lingkungan Kementerian Kesehatan Tahun 2025, Ditjen Farmalkes berhasil meraih peringkat II untuk kategori Unit Utama di lingkungan Kemenkes, sedangkan untuk kategori Unit Kerja/Unit Pelaksana Teknis peringkat I diraih oleh Loka Pengamanan Alat dan Fasilitas Kesehatan Banjarbaru dan peringkat II diraih oleh Balai Pengamanan Alat dan Fasilitas Kesehatan Makassar.
Penghargaan untuk Unit Kerja Terbaik dengan Satuan Pengawas Internal/Satuan Kerja Internal Efektif di lingkungan Kemenkes diperoleh Setditjen Farmasi dan Alat Kesehatan yang mendapatkan peringkat ke III. Sedangkan untuk Unit Kerja dengan Pelaporan LHKPN Tahun 2024 Tercepat dengan Status Terverifikasi Lengkap diperoleh Direktorat Produksi dan Distribusi Farmasi dengan peringkat ke II.
Direktorat Pengelolaan dan Pelayanan Farmasi turut meraih Penghargaan Indeks Kualitas Kebijakan (IKK) Tahun 2025 dengan kualifikasi “Unggul”. Tidak ketinggalan, Direktorat Ketahanan Farmasi dan Alkes juga meraih prestasi di mana Direktur Ketahanan Farmasi dan Alkes berhasil mendapatkan peringkat ke II dalam ajang Bibliobattle 2025.
Melalui rangkaian penghargaan tersebut, Kementerian Kesehatan menyampaikan apresiasi kepada kementerian/lembaga, lintas sektor, organisasi masyarakat, serta mitra pembangunan yang telah mendukung transformasi kesehatan nasional, Kemenkes juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat kolaborasi, khususnya dalam penyediaan data, harmonisasi kebijakan, dan percepatan program guna mengakselerasikan pencapaian target pembangunan kesehatan dan peningkatan layanan bagi masyarakat.




















