Sejak diluncurkan pada 10 Februari 2025, Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) genap memasuki satu tahun. Dalam kurun waktu tersebut, lebih dari 70 juta masyarakat Indonesia telah memanfaatkan layanan ini untuk mendeteksi kondisi kesehatan sejak dini.
Kini CKG tidak lagi sekedar mendeteksi penyakit, tetapi memastikan masyarakat langsung mendapatkan pengobatan. Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi G. Sadikin menegaskan, perubahan pendekatan ini menjadi pembeda utama CKG tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya.
“Yang paling penting sekarang, cek kesehatan gratis itu bukan hanya dicek, tapi juga diobati. Kalau tekanan darahnya normal tidak perlu diobati, tapi kalau tinggi harus diobati. Gula darah juga sama, kalau tinggi harus langsung diobati,” ujar Menkes saat meninjau pelaksanaan satu tahun CKG di RSUP dr. Kariadi, Semarang pada 10 Februari 2026.
Sementara itu, di tanggal yang sama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno didampingi Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Dr. L. Rizka Andalusia meninjau satu tahun pelaksanaan program CKG di Puskesmas Cilandak, Jakarta Selatan.
Menko PMK menekankan bahwa Cek Kesehatan Gratis merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk menggeser paradigma pembangunan kesehatan dari kuratif ke preventif, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto bahwa kualitas masyarakat harus dimulai dari kondisi kesehatan yang baik.
“Cek kesehatan sekarang untuk kesehatan kita di masa depan. Ini adalah bagian dari komitmen pemerintah, Bapak Presiden Prabowo bahwa masyarakat kita harus semakin berkualitas dan titik fondasi awal dari berkualitas itu adalah sehat. Mencegah itu lebih penting dari pada mengobati. Ini bagian dari upaya untuk mendeteksi sakit, diketahui sedini mungkin,” jelasnya.
Esensi dari skrining kesehatan adalah tata laksana lanjutan yang cepat dan tepat bagi setiap peserta yang ditemukan memiliki kelainan kesehatan, guna mencegah progresivitas penyakit ke tahap yang lebih kritis.
Lebih lanjut Menko PMK menegaskan bahwa keberhasilan CKG tidak dapat diukur semata dari jumlah peserta yang diperiksa, melainkan dari sejauh mana temuan kritis dapat ditindaklanjuti melalui pengobatan atau rujukan medis.

Dirjen Farmalkes menjelaskan bahwa sistem CKG kini dirancang untuk memastikan tidak ada kasus yang terlewat setelah pemeriksaan.
“CKG bukan hanya menemukan kasus, tetapi juga melakukan tata laksana lanjutan dari hasil CKG. Jadi ini bukan sekadar deteksi, melainkan benar-benar perawatan,” jelas Rizka.
Rizka menambahkan, mekanisme tersebut mencakup penanganan penyakit seperti hipertensi dan diabetes yang langsung diberikan terapi di puskesmas, hingga kasus-kasus kritis seperti kekurangan enzim pada bayi baru lahir atau penyakit jantung bawaan yang segera dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan.
Pada pelaksanaan CKG tahun 2026, pemerintah semakin memperkuat sistem tindak lanjut dengan menambah cakupan skrining penyakit yang membutuhkan tata laksana lanjutan yang ketat. Selain pemeriksaan talasemia yang kini difokuskan pada balita usia dua tahun dan peserta didik kelas 7, program ini juga memperluas skrining kanker paru dan kanker usus besar bagi perempuan dan laki-laki, serta menambah deteksi penyakit kulit menular seperti kusta, skabies, dan frambusia.
Seluruh temuan dari pemeriksaan tersebut akan diikuti dengan protokol pengobatan atau rujukan yang jelas, sehingga deteksi dini benar-benar mampu mengurangi beban penyakit.
Melalui pendekatan yang lebih proaktif, tim CKG hadir langsung di tempat-tempat berkumpul masyarakat atau komunitas, seperti kantor, sekolah, dan organisasi. Dengan dukungan jaminan rujukan lanjutan yang terintegrasi dalam program ini, diharapkan masyarakat tidak hanya semakin sadar akan kondisi kesehatannya, tetapi juga dapat segera memperoleh pengobatan yang dibutuhkan sejak dini.




















