Jakarta, 21 Januari 2026
Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkuat produksi lokal sektor kesehatan yang berkelanjutan dan berkeadilan melalui persiapan penyelenggaraan World Local Production Forum (WLPF) keempat, Forum global ini menjadi platform strategis untuk memperkuat ketahanan sistem produksi dan rantai pasok kesehatan dunia.
WLPF diinisiasi sebagai respons atas kerentanan sistem produksi dan rantai pasok global yang terungkap selama pandemi COVID-19. Situasi tersebut menegaskan pentingnya pengembangan kapasitas manufaktur lokal yang terdiversifikasi, tangguh, dan inklusif, khususnya di negara berpenghasilan rendah dan menengah, guna memperkuat kedaulatan kesehatan serta menjaga keamanan kesehatan global. Dalam pertemuan persiapan WLPF keempat, yang digelar di Gedung Adhyatma Kementerian Kesehatan RI, Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan, Jeffri Ardianto, menyampaikan bahwa forum ini merupakan momentum penting untuk menerjemahkan komitmen global ke dalam langkah operasional yang konkret.

“World Local Production Forum merupakan platform strategis untuk memperluas akses terhadap obat-obatan dan teknologi kesehatan melalui produksi lokal yang berkelanjutan. Pertemuan persiapan ini menjadi langkah krusial agar WLPF keempat memiliki fokus strategis yang jelas dan dapat diimplementasikan secara nyata,” ujar Jeffri.
Pada kesempatan tersebut, Jeffri juga menyampaikan apresiasi atas dukungan dan kemitraan yang erat antara Indonesia dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), khususnya dengan kehadiran perwakilan Kantor Pusat WHO. Kemitraan ini dinilai mencerminkan komitmen bersama dalam memajukan agenda produksi lokal di tingkat global.
Diskusi persiapan WLPF keempat difokuskan pada penyelarasan pemahaman mengenai concept note, struktur forum, serta narasi strategis yang menempatkan WLPF keempat sebagai titik balik operasional untuk menjembatani kesenjangan implementasi global. Forum ini dirancang dengan pendekatan tiga pilar utama, yakni penelitian dan pengembangan hulu (upstream R&D), manufaktur menengah (midstream manufacturing), akses hilir (downstream access), termasuk berbagai isu lintas sektor yang relevan.

Selain itu, pertemuan ini juga membahas aspek operasional dan kelembagaan, termasuk kerangka hukum dan Host Country Agreement, tata kelola forum, pembagian peran dan tanggung jawab para pihak, komitmen pendanaan, kebutuhan logistik, serta penyusunan jadwal indikatif menuju penyelenggaraan WLPF keempat pada 2027.
Indonesia, khususnya Kementerian Kesehatan RI, memandang proses persiapan ini sebagai peluang strategis untuk memperkuat infrastruktur manufaktur lokal, mendorong alih teknologi, serta membangun kapasitas nasional dan regional. Upaya tersebut juga diarahkan untuk memperluas akses pasar regional dan global bagi produk kesehatan dalam negeri.
Pemerintah Indonesia juga menyatakan kesiapan untuk bekerja sama secara erat dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan seluruh mitra terkait dalam menyusun peta jalan yang jelas menuju penyelenggaraan World Local Production Forum keempat di Bali.
“Melalui diskusi yang terbuka, konstruktif, dan berorientasi solusi, kami optimistis WLPF keempat akan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan produksi lokal yang tangguh, inovatif, dan inklusif demi tercapainya kesetaraan kesehatan global,” tutup Jeffri.




















