Alat Kesehatan merupakan salah satu komponen penting dalam pelayanan kesehatan. Namun, berdasarkan data eKatalog LKPP tahun 2019-2020, transaksi alat kesehatan masih didominasi produk impor, yakni mencapai 88% dari total nilai transaksi alat kesehatan. Oleh karena itu, meningkatkan resiliensi atau ketahanan alat kesehatan menjadi salah satu program prioritas Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan dalam kerangka Transformasi Sistem Ketahanan Kesehatan.

Hal ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 6 tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan yang ditindaklanjuti oleh Kementerian Kesehatan melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 17 tahun 2017 tentang Rencana Aksi Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.

Baca juga:
Integrasi dan Revitalisasi Pelayanan Kesehatan

Dalam rangka mewujudkan Instruksi Presiden tersebut dan meningkatkan penggunaan alat Kesehatan dalam negeri, Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan melalui Direktorat Ketahanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan mengadakan kegiatan “Business Matching, dan Pameran Aksi Afirmasi Peningkatan Penggunaan Produk Alat Kesehatan Dalam Negeri di Hotel Claro Makasar Sulawesi Selatan pada 30 Agustus-1 September 2022 secara luring maupun daring melalui media virtual meeting dan streaming kanal Youtube.

Kegiatan ini dibuka oleh Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Dra. L. Rizka Andalucia, Apt, M.Pharm, MARS, dan dalam sambutannya beliau menjelaskan bahwa masih tingginya alat kesehatan impor pada pelayanan kesehatan di Indonesia harus diantisipasi dengan kebijakan yang mengatur belanja alat kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah serta penguatan daya saing industri alat kesehatan dalam negeri yang berbasis penelitian terapan dan pemanfaatan sumber daya dalam negeri.

Baca juga:
Mengapa Alkes Indonesia Belum Mandiri?

“Melalui pertemuan ini diharapkan dapat memperoleh hasil yang bermanfaat sehingga pengetahuan terkait teknologi dan mutu alkes dalam negeri meningkat dan mendorong peningkatan penggunaan alat kesehatan dalam negeri pada pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah”, ungkap Dirjen Rizka.

Selain dihadiri oleh peserta dari Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, kegiatan ini juga dihadiri oleh 56 peserta yang terdiri dari RSUD dan Dinas Kesehatan Provinsi di regional pulau Sulawesi dan sekitarnya, serta RSUD dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di wilayah Sulawesi Selatan, Asosiasi (ASPAKI dan GAKESLAB).

Bersamaan dengan acara Workshop dan Business Matching, dalam kegiatan ini juga berlangsung acara Pameran Alat Kesehatan dalam negeri yang dihadiri oleh 59 perusahaan alat kesehatan dalam negeri. Dalam pameran tersebut mereka menampilkan produk alat kesehatan Indonesia seperti USG, antropometri, ventilator, anesthesia machine, dan aneka BMHP (syringe, infusion, dan sebagainya), khususnya produk-produk yang banyak digunakan di rumah sakit umum daerah.

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►