Dalam rangka meningkatkan penggunaan bahan baku obat produksi dalam negeri, pemerintah memberikan Fasilitasi Change Source bahan baku obat dari bahan baku obat impor ke bahan baku obat dalam negeri.

Kick Off Change Source Penggunaan Bahan Baku Obat Dalam Negeri dilaksanakan di PT. Kimia Farma Sungwun Pharmacopia, Cikarang, Bekasi pada Kamis (2/6). Diresmikan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, didampingi oleh Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Dirjen Farmalkes) Rizka Andalucia, Direktur Utama Holding BUMN Farmasi Honesti Basyir, dan dihadiri oleh para pelaku usaha di bidang kefarmasian.

Peresmian ini sekaligus menjadi salah satu langkah memulai transformasi layanan kesehatan. Budi menjelaskan, selama ini obat dan bahan bakunya masih banyak yang diimpor. Hal tersebut berdampak besar saat pandemi melanda Indonesia, yang membatasi pasokan bahan baku obat untuk masyarakat. “Itu yang membuat Kemenkes mau, at least 50  persen obat-obatan kita dari hulur ke hilir di produksi di dalam negeri,” kata Menkes.

Baca juga:
Percepat Pengembangan Fitofarmaka, Ditjen Farmalkes Selenggarakan FGD Koordinasi ABGCI Percepatan Pengembangan Produk dan Peningkatan Daya Saing Fitofarmaka

Menurutnya, transformasi ini bukan tentang ekonomi atau nasionalisme, melainkan ketahanan atau resiliensi kesehatan untuk melindungi 270 juta rakyat Indonesia, sehingga bisa mendapatkan akses yang berkualitas. “Khusus untuk saat ini kita telah meresmikan sejumlah pabrik bahan baku obat jenis Povidone Iodine, yang biasanya kita pakai buat obat merah kalau kita luka-luka,” jelasnya.

Sebelumnya, bahan baku obat tersebut 100 persen impor, namun ternyata sumber bahan baku Povidone Iodine sendiri merupakan hasil tambang dari Kimia Farma di Jawa Timur.

Dalam laporannya Dirjen Farmalkes Rizka Andalucia mengungkapkan, Kementerian Kesehatan sedang melakukan transformasi sistem kesehatan, yang salah satu pilarnya adalah transformasi sistem ketahanan kesehatan dengan agenda untuk meningkatkan ketahanan sektor farmasi melalui produksi lokal produk biopharmaceutical, vaksin, Active Pharmaceutical Ingredients (API) kimia dan natural.

Baca juga:
Tingkatkan Implementasi Fornas dalam pelaksanaan JKN


Dari sepuluh molekul terbesar tersebut, kata Rizka, hingga 2021 terdapat beberapa bahan baku obat yang dapat diproduksi di dalam negeri antara lain Paracetamol diproduksi oleh PT Riasima, Klopidogrel dan Atorvastatin diproduksi oleh PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopeia, dan Omeprazole diproduksi oleh PT Ferron Pharmaceutical.

Pada kesempatan yang sama, Honesti Basyir, Direktur Utama Holding BUMN Farmasi menyebutkan perubahan sumber daya ini adalah bagian dari terobosan baru untuk mengurangi ketergantungan bahan baku impor yang masih sangat tinggi. Saat ini sekitar, 90% bahan baku obat masih bersumber impor dan berdasarkan data produk yang tayang di e-katalog, sekitar 34,7% merupakan produk impor, yang didominasi oleh produk-produk inovatif (produk patent dan produk biologi, termasuk produk darah).

Baca juga:
Kebijakan dan Sertifikasi Manajemen Mutu Alat Kesehatan

“Kalau saat ini kita masih impor sekitar 90%, di group kami (Holding BUMN Farmasi) bisa mengurangi hingga 20% kebergantungan bahan baku obat, ini target kita ini sudah ada di road map yang kita buat hingga 2026, memang ini agak susah untuk menjadi 0% karena ada industri hulu, kimia dasar yang juga harus kita perbaiki untuk bisa terangnya.

Untuk mencapai target tersebut, Honesti Baasyir mengharapkan dukungan pemerintah dari sisi regulasi yang lebih simpel dan mudah. “Kami yakin dengan dukungan pemerintah seperti Kemenkes, kita bisa menyatukan tekad kita untuk saling mendukung dengan menyesuaikan regulasi, sehingga kami bisa melakukan produksi lebih cepat dan bersaing dengan impor. Karena dengan skala ekonomi yang terbatas, tentunya kita belum bisa bersaing full dengan impor,” harapnya.

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►