Pabrik Obat Onkologi PT. Kalbe Farma

322

Pada hari Kamis (23/01) Wakil Menteri Kesehatan Prof. Ali Ghufron Mukti meresmikan beberapa fasilitas produksi pabrik obat kanker (onkologi) PT Kalbe Farma Tbk melalui anak usaha PT Dankos Farma bertempat di Pulogadung Jakarta. Wamenkes dalam acara ini didampingi oleh Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Dra. Maura Linda Sitanggang, Ph.D, Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Irawati Setiady dan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Dr. Ir. Roy A. Sparringa

“Pabrik Onkologi ini meliputi pabrik obat, unit produksi injeksi non-betalaktam, dan Kalbe Learning Centre,” kata Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Irawati Setiady. Irawati mengatakan, pembangunan fasilitas pabrik merupakan upaya Kalbe menyediakan obat kanker yang bermutu, dan harga terjangkau, serta ditujukan untuk keperluan ekspor.

Irawati menambahkan, pabrik di Pulogadung ini memiliki kapasitas 55 juta unit per tahun serta diharapkan dapat mensubtitusi obat kanker impor 30-40 persen. Pabrik yang dibangun sejak 31 Maret 2011 di atas lahan seluas 1.800 meter persegi dengan luas bangunan 3.800 meter persegi ini nantinya akan memproduksi obat kanker jenis tablet dan injeksi. Selain untuk kebutuhan dalam negeri, obat kanker Kalbe ini juga akan diekspor. Kalbe sendiri memasarkan obat kanker sejak 1988, kemudian perusahaan ini mengakuisisi salah satu perusahaan obat onkologi Indonesia pada tahun 1996, setelah itu pada tahun 2006 Kalbe mendirikan Institut Kanker dan Sel Punca dilanjutkan tahun 2009 Kalbe membangun Kalbe Genomics (KalGen) sebagai laboratorium molekuler pertama di Indonesia, serta Kalbe Learning Centre merupakan pelatihan teknis bagi calon operator produksi di Kalbe.

Irawati menjelaskan, Kalbe Learning Centre dilengkapi pelatihan “in-class” maupun menggunakan mesin-mesin produksi, alat-alat proses kontrol, dan alat-alat teknik lainnya.

Setelah menjalani proses pelatihan diharapkan peserta/ calon operator dapat langsung bekerja karena dalam pelatihan tersebut menggunakan simulasi kerja sesuai produksi sebenarnya di pabrik, jelas Irawati.

Terkait peresmian pabrik onkologi, Wamenkes Prof. Ali Ghufron Mukti mengatakan, pemerintah sangat mengapresiasi upaya Kalbe mengingat penyakit kanker kini menempati peringkat nomor 3 di Indonesia setelah stroke dan jantung.

Wamenkes mencatat pada tahun 2013 terdapat 500.000 penderita kanker yang semuanya membutuhkan dukungan pengobatan, diharapkan produksi obat kanker Kalbe dapat segera dimasukkan ke dalam e-catalog agar dapat diakses berbagai pihak yang membutuhkan.

Wamenkes mengatakan, pembangunan pabrik onkologi membutuhkan investasi yang sangat besar, seperti pada tahun 2013 investasi untuk obat onkologi mencapai Rp3 triliun.

Wamenkes berharap Kalbe dapat memproduksi obat kanker yang berkualitas namun dengan harga terjangkau serta dapat diakses dengan mudah baik selama terapi maupun pasca terapi.

Wamenkes mengakui bahan baku untuk obat kanker masih terbatas sebagian besar sekitar 95 persen masih impor, sedangkan obat kanker saat ini 90 persen sudah dapat diproduksi di Indonesia.

Wamenkes mengatakan, pemerintah sendiri mentargetkan dapat menggunakan sumber daya di dalam negeri sehingga diharapkan dapat mengurangi 20 persen penggunaan bahan baku impor.

“Investasi pabrik obat kanker tidak mudah membutuhkan waktu lama dan didukung SDM yang bagus,” ujar dia.

Sebagian produk obat kanker Kalbe ini akan dipasarkan di Vietnam, Kalbe sendiri di luar obat kanker telah memiliki pasar di Asia terutama Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Timur, jelas Irawati