Pada 19 Mei 2022, Ditjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan melalui Direktorat Ketahanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan menyelenggarakan pertemuan FGD Advokasi dan Pembinaan Industri Farmasi Dalam Rangka Peningkatan Penggunaan Bahan Baku Obat Dalam Negeri bertempat di Hotel Mercure Gatot Subroto Jakarta.

Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan, L. Rizka Andalucia ini bertujuan untuk:

  1. Melakukan sosialisasi, koordinasi dan sinergisme program Kementerian Kesehatan khususnya peran dan fungsi Direktorat Ketahanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan dalam pengembangan industri farmasi dalam negeri;
  2. Melakukan evaluasi, pemetaan dan inventarisasi masalah serta dukungan yang dibutuhkan oleh industri farmasi dari pemerintah;
  3. Sinergisme program pengembangan hingga peningkatan penggunaan obat dengan bahan baku produksi dalam negeri;
  4. Meningkatkan penggunaan bahan baku obat produksi dalam negeri oleh industri farmasi di Indonesia.

FGD ini dilaksanakan secara hybrid dan diikuti oleh perwakilan dari 228 industri farmasi yang terdiri dari 14 industri bahan baku obat dan 214 industri farmasi formulasi, dengan metode pelaksanaan penyampaian paparan oleh narasumber dan diskusi.

Baca juga:
Promosi Penggunaan Fitofarmaka Sebagai Upaya Peningkatan Penggunaan Fitofarmaka di Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Dalam sambutannya, Dirjen menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Industri Farmasi Indonesia dan juga GPFI atas dukungan yang selama ini diberikan kepada pemerintah, khususnya dalam penyediaan obat sebagai terapi utama dan terapi pendukung serta vaksin COVID-19.

“Berkat dukungan tersebut, pemerintah dapat memastikan obat dan vaksin telah terdistribusi ke seluruh wilayah yang membutuhkan, termasuk untuk keperluan telemedisin pasien isolasi mandiri (Isoman) semasa periode pandemi”, ucap Dirjen.

Pada masa pandemi ini, terdapat kesulitan dalam mengakses produk obat, bahan baku obat dan alat kesehatan dikarenakan adanya kebijakan lockdown yang diterapkan oleh negara-negara untuk mengantisipasi dampak penyebaran COVID-19, pembatasan pergerakan barang dan orang, maupun pembatasan ekspor dari negara produsen bahan baku obat untuk global yaitu China dan India yang disebabkan oleh adanya peningkatan kebutuhan obat.

Baca juga:
Percepat Produksi Bioteknologi Dalam Negeri, Ditjen Farmalkes Selenggarakan FGD Evaluasi Capaian Akselerasi Produksi Bioteknologi

Sebagai salah satu respon pemerintah dalam mengatisipasi pandemi ini, adalah dengan berupaya meningkatkan resiliensi sistem rantai pasok kefarmasian dan alat kesehatan di Indonesia. Kementerian Kesehatan telah mencanangkan transformasi sistem kesehatan melalui transformasi 6 pilar dimana salah satu yang terkait dengan peran strategis perusahaan farmasi adalah transformasi sistem ketahanan kesehatan, dengan target produksi lokal 14 vaksin program dan top 10 obat pada tahun 2024.

Selain itu penguatan terhadap produksi lokal obat esensial termasuk produk darah, produk biologi lainnya, serta obat herbal terstandar (OHT) dan fitofarmaka dalam rangka pengembangan dan pemanfaatan kekayaan alam Indonesia melalui penerapan evidence-based medicine juga terus didorong untuk dikembangkan dan ditingkatkan penggunaanya di dalam negeri.  

“Perlu diingat bahwa konsep Berdikari dan Bangga Buatan Indonesia ini bukan berarti menolak atau mengurangi kerja sama dengan negara-negara lain, melainkan memperluas kerja sama internasional”, kata Dirjen.

Baca juga:
Uji Klinis Fase 3 Vaksin COVID-19 Buatan Bio Farma Segera Dimulai, Indonesia akan Mandiri Dalam Pembuatan Vaksin COVID-19

Pemerintah berupaya meningkatkan produksi bahan baku obat, obat, dan alat kesehatan dan juga penggunaan obat dan alat kesehatan dalam negeri dengan mendorong investasi pengembangan industri berbasis riset dan fokus untuk teknologi menengah tinggi. Peningkatan kompetensi sumber daya manusia khususnya pengembangan SDM dalam bidang biomedical engineering terus dilakukan, termasuk juga Transfer of Knowledge and Technology. Pemerintah mendukung pengembangan Ekosistem Research and Development (R&D) yang terintegrasi antara akademisi, swasta dan pemerintah.

Plt. Direktur Ketahanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Sodikin Sadek dalam laporannya menyampaikan, “Acara FGD Advokasi dan Pembinaan Industri Farmasi Dalam Rangka Peningkatan Penggunaan Bahan Baku Obat Produksi Dalam Negeri ini diharapkan dapat mempercepat penggunaan produksi dalam negeri untuk mewujudkan ketahanan sediaan farmasi dan alat kesehatan dan mendukung program Bangga Buatan Indonesia”.

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►

iklan ⓘ ►