Surabaya, 29 September 2026
Dalam upaya memperkuat ketahanan kesehatan nasional, Kementerian Kesehatan terus mendorong prioritas penggunaan Alat Kesehatan (Alkes) dalam negeri. Komitmen ini ditegaskan kembali dalam kegiatan Pameran dan Business Matching Peningkatan Penggunaan Alat Kesehatan Dalam Negeri yang diselenggarakan di Surabaya pada 29-30 September 2026.
Direktur Ketahanan Farmasi dan Alkes, Wenny Indriasari memaparkan bahwa lanskap alat kesehatan di Indonesia menunjukkan tren yang sangat positif. Selama 10 tahun terakhir, produksi alat kesehatan dalam negeri tercatat melonjak hingga 29 kali lipat. Jika pada tahun 2014 terdapat 635 Izin Edar Alat Kesehatan Dalam Negeri (AKD), pada pertengahan tahun 2026 ini angka tersebut melonjak drastis menjadi 19.449 izin edar.
Lebih lanjut, Wenny menyampaikan pasar alat kesehatan di Indonesia diproyeksikan terus berkembang dan diperkirakan mencapai USD 3,51 miliar pada tahun 2030. Hal ini menunjukkan besarnya peluang pengembangan industri alat kesehatan dalam negeri sekaligus memastikan kebutuhan pelayanan kesehatan di Indonesia dapat semakin dipenuhi oleh produk impor.
Perkembangan industri alat kesehatan ini juga terlihat dengan adanya fasilitas produksi alat kesehatan berteknologi tinggi, Computed Tomography (CT) Scanner, yang telah diresmikan pada Juni 2025. Selain itu, Industri alat kesehatan mengklaim telah berhasil melakukan substitusi impor hingga 50% untuk berbagai jenis produk kesehatan.
Sebagai salah satu upaya mempercepat peningkatan penggunaan alat kesehatan dalam negeri, Kemenkes menyelenggarakan forum business matching di berbagai kota. Kali ini, kegiatan dilaksanakan di Surabaya, Jawa Timur, dan diikuti oleh 60 rumah sakit dan Dinas Kesehatan di Jawa Timur serta 66 penyedia alat kesehatan dalam negeri, dengan rangkaian kegiatan berupa seminar dan pameran alat kesehatan dalam negeri.
Forum ini mempertemukan secara langsung pengguna dengan penyedia alat kesehatan dalam negeri, dengan harapan menjadi ruang untuk menyampaikan kebutuhan, memperkenalkan produk, membahas kesesuaian spesifikasi, serta mengidentifikasi potensi transaksi dan tindak lanjut pengadaan.
Kepala Balai Pengamanan Alat dan Fasilitas Kesehatan (BPAFK) Surabaya, Ahadi Wahyu Hidayat, dalam pembukaan kegiatan menyampaikan, Program Hasil Terbaik Cepat (Quick Win) di bidang kesehatan memberikan arah yang jelas terhadap kebutuhan alat kesehatan nasional.
Kebutuhan ini merupakan peluang sekaligus tanggung jawab industri alat kesehatan dalam negeri dalam meningkatkan kapasitas rumah sakit terhadap kebutuhan alat kesehatan dalam negeri.



















